Tenny Technology | The Next Generation
Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Agustus 2012

0 Memadamkan Api Dengan Setetes Air Mata

Selasa, Agustus 28, 2012 Under From Refky wijaya
[0 Comment]
“Segala sesuatu (di dunia ini) pasti memiliki timbangan dan takaran kecuali air mata, karena satu tetes darinya dapat memadamkan lautan api”.(Imam Ja’far Shadiq as.)
Orang-orang yang menangis memiliki faktor yang beraneka ragam. Kadang-kadang faktor pendorongnya untuk menangis adalah kehilangan harta, putranya meninggal dunia, penyesalan atas dosa-dosa yang pernah dilakukannya, dan banyak faktor lain yang mungkin dimiliki oleh seseorang.Sebagai sarana mengekspresikan emosi, tetesan air mata mengkomunikasikan pesan dengan makna-makna tertentu. Ia mengekspresikan suasana hati yang terdalam, entah sedih, gembira, takut, atau sakit. Sehingga nilai air mata begitu istimewa, khusus, serta berkesan. Bukankah hati hanya bisa disentuh oleh hati lagi? Maka jangan heran, jika air mata bisa meluluhkan hati yang keras, serta menaklukkan sesuatu yang tidak bisa ditaklukkan dengan pedang.
Pada suatu hari di majelis Rasulullah SAW, Ketika itu para sahabat sedang menangis tatkala Rasulullah SAW menyampaikan untaian-untaian tausiyah kepada para sahabatnya, bahkan Beliau sendiri menyampaikan nasehatnya dengan suara parau. Namun tidak demikian dengan seorang sahabat, sahabat tersebut adalah seorang pemuda yang kebetulan menghadiri majlis Rasulullah, tak setetes pun air mata keluar dari kelopak matanya. Ia sendiri merasa aneh, sehingga menanyakannya kepada Rasulullah penyebab dirinya sangat sulit menangis. Rasulullah pun menjelaskankan semua hal yang menyebabkan sang pemuda tidak meneteskan airmata, ternyata dari penjelasan Rasulullah, semuanya bermuara dari satu hal, yaitu cinta dunia hingga akhirnya melupakan akhirat.
Sesungguhnya, air mata pun bisa menjadi alat komunikasi yang sangat canggih antara seorang hamba dengan Tuhannya. Betapa tidak, tetesan air mata di jalan Allah bisa memadamkan kobaran api neraka. Rasulullah SAW bersabda, Tidak akan masuk neraka, seseorang yang menangis karena takut kepada Allah. Itulah maksud dari hadits Imam Ja’far Shadiq di atas. Jika kita merujuk kepada riwayat, kita akan dapatkan bahwa menangis memiliki efek-efek positif yang dapat bermanfaat bagi diri manusia. Di antaranya, menangis dapat melunakkan hati. Tentunya, tidak semua tangisan dapat memiliki efek seperti itu. Tangisan yang dapat memadamkan lautan api itu adalah tangisan yang muncul dari rasa penyesalan terhadap dosa yang pernah dilakukan oleh seseorang. Tangisan seperti inilah yang dapat memadamkan lautan api neraka yang dikobarkan oleh dosa-dosa seorang hamba.
Air mata juga bisa mendatangkan pertolongan Allah di akhirat kelak. Dalam sebuah hadis disebutkan, bahwa ada tujuh golongan manusia yang akan ditolong Allah pada Hari Kiamat, ketika tiada lagi pertolongan selain pertolongan dari-Nya. Salah satunya adalah orang yang menangis di keheningan malam ketika orang-orang terlelap tidur. Ia menangis karena besarnya rasa takut dan harap kepada Allah. Air mata pun bisa mempercepat ijabahnya doa-doa. Efek tetesannya mampu menembus batas-batas dimensi ruang dan waktu.
Semog Allah senantiasa melunakkan hati-hati kita agar dapat selalu menangisi dosa-dosa.
Read More »

Selasa, 07 Agustus 2012

0 Cerpen : WHEN THE TIME COMES

Selasa, Agustus 07, 2012 Under From Refky wijaya
[0 Comment]

WHEN THE TIME COMES
Cerpen Romantis
Oleh Bella Danny Justice

“if i tell you...
Will you listen?
Will you stay?
Will you’d be here forever?
never go away...”
(Within Temptation – Bittersweet)

Sudah lama Myca memendam perasaan cintanya kepada Michael yang juga teman sekelasnya pada masa SMA dulu, namun kesempatan bagi dia untuk mengutarakan isi hatinya tak pernah tersampaikan. Michael memanglah teman sekelas Myca, tetapi mereka jarang sekali berinteraksi atau hanya sekedar bertegur sapa. Michael adalah sosok yang pendiam dan cool sehingga ia diidamkan banyak perempuan-perempuan di sekolah, dia tampan dan paling pintar dalam bidang olahraga. Banyak wanita yang berangan-angan ingin menjadi pacarnya, dan tidak sedikit yang berani mengungkapkan perasaannya kepada Michael secara terang-terangan, tetapi hasilnya begitu mengejutkan sekaligus membuat rasa penasaran Myca memuncak akan diri seorang Michael. Laki-laki itu tidak pernah menerima salah satu pun dari mereka dan ia belum pernah berpacaran.

Myca menyadari rasa sukanya semakin mendalam ketika pemakaman ayah Michael yang meninggal karena sakit keras. Ia merasa sangat terpukul seakan ikut memikul beban kesedihan yang dialami Michael waktu itu. Air matanya menggenang di pelupuk matanya. Ia tidak mampu menahan rasa ibanya saat melihat wajah Michael yang suram lagi di rundung duka. Momen itu adalah kenangan yang paling tidak terlupakan bagi Myca, tetapi kenyataan pahit harus ia telan bulat-bulat. Kini tak ada lagi Michael yang ia kagumi. Hari-hari di sekolah bersama, masa-masa Ujian Nasional, sampai pada acara perpisahan ke puncak... semua itu telah berlalu dan menjadi sebuah memory manis yang akan selalu terekam di kepala Myca.

Dunia nyata sudah di depan matanya. Setelah lulus SMA ia memutuskan melanjutkan kuliah di Jerman. Dan dengan jalan ini pula ia berharap dapat melupakan sedikit demi sedikit, perlahan demi perlahan bayangan Michael yang hadir dalam mimpinya setiap malam. 4 tahun menetap dan belajar di Jerman pun rupanya belum cukup untuk menghapus Michael dari kehidupannya secara utuh, akhirnya Myca kembali ke Indonesia dengan menyandang gelar .Ing pada namanya sebagai bentuk ketuntasan ia menyelesaikan program study S1-nya.

Wanita yang memakai sweater biru tebal dan syal berwarna cream itu menghela nafas panjang sesampainya ia di bandara. “haaahh, ich komme...” gumamnya menggunakan bahasa Jerman. Di sana telah menunggu seseorang yang menjemputnya, pria itu nampak gusar memperhatikan sekelilingnya, ia hanya mondar-mandir-duduk-berdiri dan menoleh ke kanan-kiri. “Hey, Myca! Sebelah sini!” teriaknya dengan lantang ketika mendapatkan sosok yang ia cari sedari tadi. Saat mendengar ada yang memanggil namanya, Myca menggiring kopernya dan menghampiri orang tersebut.

“Wer sind Sie bitte?” tanya Myca masih menggunakan bahasa Jerman. Ia heran mengapa pria ini mengetahui namanya, ia takut orang ini adalah orang jahat, itu sebabnya ia tidak berbahasa Indonesia.

Wajah pria itu terlihat kosong. Ia tidak mengerti maksud perkataan Myca. Ia menaikan satu alisnya dan mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuk seperti orang yang sedang berfikir. “hmmm... baiklah akan ku coba! Mein name ist Hyou, es freut mich Sie kennenzulernen.” Kemudian laki-laki itu tersenyum lebar ke arah Myca dan membuat Myca benar-benar bingung.

“tidak buruk. Tapi aku tidak mengenalmu, jadi minggirlah dari jalanku.” Myca menggandeng genggaman koper besarnya dan bersiap melangkah pergi dari sana, tapi pria itu kembali menghalanginya dan ia tidak membiarkan Myca lewat.

Wajahnya memerah menahan kesal, ia mendekatkan mukanya ke pria itu. “apa mau mu?! Jangan membuatku naik darah!” gertaknya tegas.

Hanya dengan satu kali hardikan Hyou langsung menyingkir dari hadapan Myca dan membiarkan wanita itu berjalan melewatinya. “apa kau lupa siapa aku?!” sahutnya yang seketika menghentikan langkah kaki Myca. Dengan berat hati ia menoleh ke arah pria bernama seperti orang keturunan Jepang tersebut namun tiba-tiba saja sebuah pelukan sudah melayang di tubuhnya.

“apa kau tidak ingat aku Myca?! aku Hyou! Aku teman masa kecilmu dulu!” ujar Hyou berusaha mengingatkan Myca tanpa melepas dekapannya.

Myca mendorong kasar pundak Hyou dengan kedua telapak tangannya untuk melepaskan pelukan yang menurutnya menjijikan itu. “kau sudah gila?! Aku tidak punya teman bernama Hyou!”
###
Kejadian kemarin berhasil membuat mood Myca berantakan. Baru saja ia kembali menginjakkan kakinya di Indonesia ia sudah bertemu orang gila yang mengaku teman masa kecilnya dulu. Myca berkutat dengan fikirannya semalaman dan ia yakin betul bahwa ia tidak pernah memiliki teman dengan nama Hyou. Ia memikirkan pria itu bukan karena perduli, tapi hanya ingin memastikan kalau ingatannya masih bagus. Mana mungkin aku tidak ingat dengan temanku sendiri? Kalau ia benar temanku pasti aku tidak akan lupa padanya. Katanya dalam hati.

Hari ini Myca berencana pergi ke rumah Elizabeth teman semasa SMA-nya. Ia memanaskan mesin mobil dan bersiap-siap untuk temu kangen dengan sahabatnya itu. sudah lama sekali rasanya aku pergi, seperti apa ya dia sekarang? Pikirnya.

Myca melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, di otaknya sekarang banyak sekali pertanyaan yang bermunculan terlebih ketika ia melewati sekolah SMA-nya. Entah mengapa rasa rindu itu muncul... ia ingin bisa bertemu dengan Michael, harapannya masih belum berubah baik dulu maupun saat ini. Ia ingin perasaannya terbalas, walau hanya sedikit... ia berdoa agar Michael juga merasakan perasaan yang sama dengannya...

jika tidak ada lagi yang dapat ku percayai di dunia ini, ketahuilah Michael... satu yang akan selalu aku percaya bahwa hatiku tetap menyayangimu...

Pikiran Myca melayang-layang entah ke mana sampai-sampai ia tidak menyadari lampu merah yang menyala dan seseorang hendak menyebrang jalan.

Myca menginjak rem secepat yang ia bisa, ia memejamkan matanya dan berteriak histeris. “aakkkkhhhhhhhh!!!” Myca harap ini tidak terlambat, dia harap dia tidak menjadi seorang pembunuh. Perlahan ia membuka kedua matanya dan melihat seorang pria terduduk di depan mobilnya dan syukurlah tampak tanpa cacat ataupun luka. Sejenak ia terdiam, kedua tangannya yang masih memegang stir mobil bergetar dan berkeringat. Akhirnya Myca melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobil dengan terburu-buru kemudian menghampiri orang itu.

Myca menjatuhkan lututnya ke atas aspal lalu menyentuh pundak pria yang hampir ia tabrak dan mengucap penuh rasa sesal. “aku sungguh minta maaf, aku tidak sengaja... tolong maafkan aku...”

Pria tersebut memalingkan wajahnya ke arah Myca dan tersenyum lembut. “tidak apa, aku tau kau tidak mungkin sengaja melakukannya. Aku baik-baik saja dan tidak luka sedikitpun kok.”

“Michael?” ucap Myca dengan pelan. Ia tidak percaya bahwa laki-laki di hadapannya sekarang adalah Michael. Ia ingat dan tidak mungkin salah! Dia Michael! Dia orang yang di sukai oleh Myca! Dan takdir kini mempertemukan mereka kembali...
###
Elizabeth terus membolak-balik majalah Cosmopolitan itu dan sesekali melirik sahabatnya Myca yang diam termenung menopang dagu di depan monitor laptop sambil melihat-lihat foto kenangan masa SMA dulu.
“kau sudah melihatnya ratusan kali, apa tidak bosan?” sindir Elizabeth, ia meletakan majalah itu di atas meja kecil di samping tempat tidurnya dan mendekati Myca.

“apa yang akan kau lakukan ketika kau mengetahui bahwa orang yang paling kau cintai akan segera menikah?” nada datar dan tak bersemangat itu keluar dari bibir Myca. Mulutnya berkata tetapi pandangannya hanya terfokus pada foto Michael di layar laptop yang memakai baju seragam putih abu-abu penuh dengan coretan tanda tangan dan piloks warna-warni. Ya, itu adalah foto kelulusan di mana saat semua teman-teman Myca sibuk bercanda ria tetapi ia tidak bisa ikut merayakannya karna suatu hal.
“merelakannya... itu yang akan aku lakukan jika aku menjadi dirimu.” Katanya singkat dan padat. Rupanya jawaban Elizabeth memberikan reaksi terhadap Myca. Ia menutup laptop itu dan menatap Elizabeth dengan mata nanarnya. “aku serius! Ini bukan hanya sekedar orang yang paling kau cintai, tetapi sangat amat kau cintai!”

Elizabeth tidak menjawab perkataan sahabatnya tetapi ia malah merangkul Myca. Ia tau persis bagaimana perasaan sahabatnya itu akan Michael, ia tau Myca sangat menyukai Michael, tapi tak banyak yang bisa ia lakukan selain memberikan sebuah pelukan untuk Myca meluapkan kesedihannya.

Takdir yang menemukannya dan Michael ternyata menyimpan kejutan besar, khususnya bagi Myca. Setelah kejadian itu Myca sempat berbincang dengan Michael di sebuah cafe. Percakapan yang paling panjang yang pernah terjalin antara ia dan Michael mungkin.

“apa kabarmu? Aku dengar setelah kita lulus SMA kau langsung pergi ke Jerman untuk melanjutkan kuliah?”


“iya, kau betul, aku baru lulus dan pulang dari Jerman kemarin. Aku baik-baik saja. Kau sendiri bagaimana? Sekarang sedang sibuk apa?”


“aku juga sangat baik. Yaaa... seperti biasa, aku sibuk bekerja dan sedang mempersiapkan acara pernikahan.”


“oya? Maaf aku tidak bisa lama-lama, ibuku pasti mengomel kalau aku terlalu lama berpergian. Aku pulang dulu ya. Bye”


“tunggu Myca! boleh aku tau nomer telfon mu?”


“ya, tentu.”

Wanita itu berfikir apa spesialnya sebuah nomer telfon? Lagipula Michael pasti tidak akan menghubunginya. Ya, karena dia sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya dengan perempuan yang ia cintai. Sakit sekali hati Myca begitu mendengar ucapan itu terlontar dari mulut Michael. Disaat harapannya terkabul tetapi ia harus menelan kenyataan yang memilukan... rasanya perih seperti tertusuk duri bunga mawar yang indah namun mampu melukai seseorang yang menyentuhnya.

Ia menyesal mengharapkan untuk bertemu lagi dengan Michael. Ia menyesal dapat melihat Michael kembali. Jika bisa ia memutar waktu, ia ingin tetap berada di Jerman dan tidak kembali untuk selamanya, membiarkan perasaannya tersiksa setiap hari dari pada harus mengetahui berita tak mengenakkan ini.
###
Benda kecil yang terus berdering itu memaksa Myca yang masih terlelap untuk bangun dari tidurnya. Tangannya meraba-raba pada meja di samping ranjang dan meraih benda tersebut. Myca mengusap-usap matanya beberapa kali lalu membukanya. Ia melihat sebuah pesan dari nomer tak di kenal bertuliskan :

Guten Morgen Myca, ini aku Michael, aku ingin mengajakmu keluar malam ini, apa kau ada waktu?

Saking terkejutnya Myca, ia langsung bangun dari posisi tidurnya dan membalas pesan dari Michael :

Aku tidak tau ternyata kau bisa bahasa Jerman juga haha baiklah, aku bisa. Jam berapa dan di mana tempatnya?

Beberapa saat kemudian Michael membalasnya :

Tidak, aku tidak bisa bahasa Jerman, hanya itu yang aku tau hahaha jam 7 di cafe tempat waktu itu kita bertemu, ok?

Myca membalas pesan itu lagi :

Ok. Baiklah, bis später 

Yang ada di dalam pikiran Myca sekarang adalah “Berpenampilan sebaik mungkin!” anggap saja ini adalah pertemuan terakhirnya dengan Michael karena setelah acara makan malam ini pasti tidak ada lagi kesempatan ia untuk berjumpa dengan pria pujaannya itu. Michael pasti akan sibuk dengan keluarga barunya, istri dan anak-anaknya. Ah, entah mengapa selalu saja hal negative tentang Michael yang terfikirkan olehku. Gumamnya.

Myca tau ini waktunya dia untuk berhenti berharap, ia tidak boleh lagi membuang-buang waktunya untuk Michael yang bahkan tidak mengerti perasaannya sedikitpun. Sepertinya ungkapan “tidak semua impian menjadi kenyataan” memang benar, buktinya ini lah yang sedang terjadi kepada Myca. Hatinya belum sanggup merelakan Michael namun ia harus bisa menerima takdir yang telah digariskan.

Pukul 5 sore ia sudah bersiap-siap dan berdandan secantik mungkin untuk tampil di depan Michael. Pilihannya jatuh pada dress berwarna hitam di atas lutut dengan lengan pendek dan aksen bunga mawar di bagian pinggang. Myca mulai memoles wajahnya dengan foundation dan bedak tipis, ia menambahkan blush on dan lipstick berwarna pink cerah serta tidak lupa membubuhkan eyeshadow glitter pada kelopak matanya juga mascara, sedangkan untuk rambut, ia membiarkannya terurai alami.

Voila! Persiapan kini sudah selesai. Sentuhan terakhir adalah sepatu. Myca memakai heels berwarna hitam dengan bahan suede agar terlihat sederhana. Ia berjalan ke arah cermin besar di dalam kamarnya. Matanya mengerjap-ngerjap tak percaya melihat bayangan seorang perempuan yang begitu cantik di dalam cermin itu. Myca tersenyum geli sambil sesekali merapihkan rambutnya. Beberapa saat kemudian terdengar bunyi klakson dan ia segera turun ke lantai bawah.

“m-maaf membuatmu menunggu.” Ucap Myca sedikit gugup. Michael nampak sangat tampan malam itu, dengan penampilan yang sederhana namun tetap menarik. Ia mengenakan Jersey team bola favoritnya yaitu Barcelona dan celana jeans hitam. Myca rasa akan sulit untuk bisa benar-benar merelakan pria itu seperti yang disarankan oleh Elizabeth.

“tidak apa. Kau cantik sekali Myca, ayo kita berangkat.” Pria itu tersenyum manis lalu membukakan pintu mobil untuk Myca.

Astaga, bagaimana mungkin aku bisa melupakan Michael kalau dia bersikap seperti ini kepadaku?

Di perjalanan menuju restaurant tidak ada di antara mereka berdua yang berani memulai pembicaraan. Baik Myca dan Michael keduanya nampak gugup dan malu-malu untuk membuka mulut. Untunglah jarak restaurant itu tidak terlalu jauh jadi mereka tidak perlu berlama-lama larut dalam keheningan yang membosankan.

Begitu memasuki tempat makan itu Myca dan Michael langsung disambut oleh seorang pelayan yang membawa mereka ke bangku spesial yang telah di pesan Michael. Pelayan itu tersenyum ramah dan mengulurkan daftar menu kepada mereka.

“kau mau pesan apa?” tanya Michael.

“sama sepertimu saja, lagipula aku baru kedua kalinya ke sini, sepertinya kau lebih tau makanan mana yang enak.” Ujar Myca lalu menyerahkan kembali daftar menu pada sang pelayan.

Michael tidak menjawabnya lagi, ia hanya mengedipkan satu matanya memberi tanda kepada pelayan itu untuk meninggalkan mereka berdua. “baiklah, sebelum makanannya datang aku ingin berbicara dulu denganmu.” Kata pria itu sambil mengambil posisi duduk serius.

“hal apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Myca tanpa basa-basi.

Michael tidak langsung menjawab, ia terdiam sejenak kemudian berkata. “aku menyukaimu.”

Oh takdir! Tolong jangan permainkan aku! “kau pasti bergurau.” Kata Myca cuek.

Tidak lama datang seorang pelayan yang membawakan minuman dan makanan untuk keduanya.

“silahkan, selamat menikmati.” Ucapnya. Pelayan itu tersenyum dan segera pergi dari sana.

Michael memandang wajah Myca. Ia menatap mata gadis itu dalam-dalam. “aku serius Myca.” Entah kenapa mendengar pengakuan Michael hati Myca justru merasa sakit. Ia merasa di tipu.

“bagaimana dengan persiapan pernikahannya?” Myca sengaja mengalihkan pembicaraan, ia harap Michael akan mengganti topik pembicaraan mereka.

“ohh soal itu, sudah 80%. Aku harap kau bisa datang menghadirinya.” betul saja! Sepertinya memang Myca harus mengakhiri perasaannya selama ini terhadap Michael.

Bagaimana kau bisa berkata seperti itu padahal kau akan menikah dengan orang yang kau cintai?

Myca beranjak dari tempat duduknya tanpa sepatah katapun. Ia meninggalkan Michael sendiri di restaurant itu. Ia tidak tahan mengahadapi semua cobaan yang datang bertubi-tubi ke dalam hidupnya. Rasanya ingin ia berkata “Dunia, mengapa kau begitu kejam? Tidak adakah belas kasihan untukku Tuhan? Berikanlah aku sedikit kebahagiaan...”
###
“bagaimana kau bisa tau rumahku?! Untuk apa kau kesini?!” pria yang menemui Myca saat di bandara waktu itu datang ke rumahnya. Ia sungguh terkejut bukan main.

“kan sudah ku bilang, aku ini teman kecilmu! Aku Hyou sahabatmu saat kau tinggal di Jepang ketika berumur 5 tahun Myca!” Myca terbelalak mendengar perkataan Hyou yang mengaku sebagai sahabat kecilnya. Ia baru ingat, ia benar-benar lupa! Sudah 16 tahun tetapi pria itu masih ingat dengannya.

Aku tidak menyangka ada orang dengan ingatan yang tajam seperti dia...

Hyou? Apa dia benar Hyou teman kecilnya dulu yang selalu menggendongnya ketika terjatuh dari sepeda? Apa dia benar Hyou teman kecilnya dulu yang memberikan topi rajutnya saat telinga Myca mulai membeku karena musim dingin di Tokyo? Apa dia benar Hyou yang dulu pernah menyatakan cinta padanya saat musim semi di bawa pohon ceri yang bermekaran?

ya Tuhan! Bagaimana mungkin aku bisa melupakannya! Jahat sekali aku terhadapnya..

“Hyou?” ucap Myca, suaranya yang sangat pelan hampir tak terdengar oleh Hyou. Ia masih belum percaya bahwa pria yang ada di depan matanya benar-benar Hyou teman kecilnya saat berada di Jepang dulu.

Hyou melangkah pasti menghampiri Myca. Tanpa harus di jelaskan ia sudah tau bahwa gadis itu sekarang sedang terkejut bukan kepalang. Hyou menyentuh tangan Myca, ia menatap mata gadis itu lekat-lekat. “aku pindah ke Indonesia sejak kau pergi dari Tokyo, aku selalu mengikutimu selama ini, tetapi aku sengaja tidak mengikutimu ke Jerman karena aku tau kepergianmu ke sana karena seseorang yang sangat kau cintai Myca.”

“Hyou maafkan aku..” tangis Myca yang tersedu-sedu mulai terdengar, ia merasa sangat sedih saat ini. Ia butuh seseorang yang mampu meredakan kepedihan hatinya akan Michael. Ia butuh seseorang! Refleks ia langsung memeluk Hyou dengan erat, tangisnya pecah seketika itu juga, ia tidak bisa lagi menanggung beban ini sendirian.

“menangislah Myca, aku akan selalu ada untukmu... aku akan menemani saat-saat suka dan duka mu, aku tercipta untuk menemanimu... hanya saja aku kurang beruntung karena aku tidak di takdirkan untuk menjadi pendamping hidupmu. Kau harus berusaha agar mendapatkan apa yang kau inginkan, jangan menyerah sedikitpun. Aku yakin nanti akan tiba waktunya bagimu merasakan kebahagiaan..” dalam pelukannya itu Hyou menepuk-nepuk punggung Myca dengan lembut. Ia mencoba menenangkan gadis itu seperti seorang adik, ia sadar perasaanya terhadap Myca tidak akan pernah terbalas. Ia tau hanya ada satu orang yang ada di hati gadis itu.

Kata-kata Hyou membuat Myca sedikit lebih baik. Beberapa saat kemudian ia mulai tenang dan kembali duduk di sofa. “terimakasih Hyou, maaf aku sudah berbuat kasar padamu waktu di bandara.” Myca menghapus air matanya yang sesekali masih mengalir di pipinya dengan punggung tangannya.

Hyou mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya lalu mengusap tangis Myca. “tidak apa, aku tau kau pasti akan lupa karena itu sudah lama sekali. Jadi aku memaafkanmu.” Pria itu tersenyum begitu lebar sehingga matanya yang kecil hanya terlihat seperti garis. Kalau saja ada keajaiban, Myca berharap ia tidak pernah jatuh cinta kepada Michael, dan ia berharap Hyou lah orang yang ia cintai. Jika keadaannya seperti itu, pasti semua akan terasa lebih mudah, tidak menyakitkan seperti yang ia rasakan sekarang.
###
Selama 1 minggu ini sudah kali ke 5 sms dari Michael berdatangan tetapi Myca tidak lekas membalasnya. Bagaimana bisa ia menahan rasa sakit untuk membalas pesan dari pria yang sangat ia cintai itu? hari ini saja pagi-pagi sekali ia sudah mengirim sebuah text :

Myca, acaraku sudah 100% selesai. Aku ingin kau datang hari ini jam 6.30 pm di Hotel Indonesia. Maaf karena aku tidak sempat memberi undangannya karena terlalu sibuk, kau tinggal sebutkan saja namamu kepada pendaftar tamu, dia akan mengizinkanmu masuk. I’ll be waiting~

Apa Michael sengaja? Atau dia terlalu bodoh? Pesan yang ia kirim sungguh menyiksa batin Myca. Hatinya perih teriris sembilu. Dia tidak tau apa yang harus ia lakukan. Apa ia bisa menghadiri acara pernikahan pria itu? apa ia bisa merelakan semua ini dengan tulus ikhlas? Apa ia berani berhenti dari penantiannya selama ini? Apa seperti ini kah ending kisah cintanya? Ia menghadiri pesta pernikahan seseorang yang sangat amat ia cintai, memberi mereka selamat dan kecupan di pipi kanan dan kiri untuk pengantin wanita, apa ia bisa melakukan itu semua?

Tekad Myca sudah bulat. Ia meyakinkan dirinya untuk yang terakhir kali bahwa ia “BISA” melewati semua ini. Ya, hanya 1 hari ini dan semuanya akan berakhir. Ia tidak akan lagi tersiksa oleh penantiannya yang hanya membuang-buang waktu. Myca meminta Hyou untuk menemaninya pergi ke acara pernikahan Michael. Hyou dengan senang hati menerima ajakan sahabatnya itu, ia tau Michael adalah laki-laki yang sangat di cintai Myca setelah wanita tersebut menceritakan semuanya. Ia paham dan sangat mengerti perasaan Myca yang sedang terguncang.

Jam 6.40 mereka sampai di sebuah ruangan ballroom megah yang bergaya classic. Design pesta pernikahan yang sangat anggun menurut Myca. Matanya menjelajahi setiap sudut ruangan dan interior-interior mewah yang menghiasi gemerlapnya pesta tersebut. Warna gold dan merah yang indah tampaknya membuat Myca terhipnotis sampai-sampai ia lupa akan keberadaan Hyou yang mengamatinya sambil terkekeh.

“kau nampak begitu takjub. Aku pun bisa mengadakan yang seperti ini jika kau memintanya padaku.” Kata Hyou yang diakhiri canda tawanya.

Myca mendengus kesal, ia mempercepat langkahnya menjauhi Hyou dan berniat untuk mengambil segelas minuman yang tersedia di sebuah meja besar namun sepatu haknya menginjak gaun Myca yang terjuntai panjang dan keseimbangannya pun goyah. Ia sudah bersiap untuk menahan malu, ia tau pasti ia akan terjatuh. Tetapi Hyou bergerak cepat dan menahan tubuh Myca.

“kau mungkin bukan jodohku, tapi kau tidak bisa lepas dariku Myca.” Hyou memandang gadis itu beberapa saat. Ia rasa ia sudah gila karena ia benar-benar mencintai orang yang tidak bisa ia miliki.

Myca tidak merespon perkataan Hyou, ia hanya terdiam dan kembali berjalan menuju stand ice-cream di sana. Kalau saja keajaiban itu ada, aku pasti memilihmu Hyou! Tetapi aku tidak bisa. Maafkan aku...

Sudah 20 menit Myca menikmati pesta pernikahan itu namun ia tidak menangkap sosok Michael dan pengantin wanitanya. Matanya masih mencari-cari keberadaan Michael, sedangkan Hyou, ia menghilang entah kemana, Myca pun jadi kesal dibuatnya. Lalu terdengar suara seseorang yang begitu ia kenal memanggil namanya. “Myca, maaf membuatmu menunggu begitu lama. Aku terjebak macet saat menuju ke sini.” Dia datang! Michael terlihat seperti orang yang habis mengikuti lomba lari, ia mengucap dengan nafas yang tersengal-sengal dan nampak sedikit berkeringat karena kelelahan. Tetapi Myca menemukan sedikit keganjilan.

“lalu dimana mempelai wanitmu? Kau tidak pergi bersamanya?” tanya Myca heran.

Michael menatap wanita itu dengan ekspresi aneh. Ia mengerutkan dahinya dan melangkah mendekati Myca. “mempelai wanita? Apa maksudmu Myca? aku menyuruhmu datang ke sini untuk menunjukan hasil kerjaku sebagai Event Organizer suatu acara, dan aku di percayai menangani proyek ini.” jelas Michael.

“jadi ini bukan acara pernikahanmu?!” tanya Myca masih tidak percaya. Ia speechless tak dapat berkata apa pun selain meragukan penjelasan Michael.

“pernikahan?” katanya kebingungan, tak lama Michael tertawa terbahak-bahak. Ia mengerti sekarang mengapa waktu itu Myca beralasan ingin cepat pulang saat pertama kali mereka berjumpa dan mengapa Myca meninggalkannya saat mereka dinner. Michael memperhatikan wajah wanita itu merah padam menahan malu. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa sukanya lagi, Michael menyukai Myca!

Pria itu menyentuh dagu Myca dan mengangkat perlahan wajahnya yang tertunduk pada karpet merah tempat mereka berdiri. “Myca, dari dulu... aku menyukaimu sejak dulu. Aku ingin kau tau semua ini, aku tidak bisa menyembunyikan perasaanku selamanya dari mu dan menghindarimu. Aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatanku seperti waktu kita SMA. Dulu aku terlalu naif untuk mengakui bahwa aku menyukaimu, tetapi sekarang aku ingin kau mengetahuinya... aku mencintaimu Myca, kau wanita yang sangat aku cintai. Aku beruntung bisa bertemu lagi denganmu, karena itu aku tidak akan membuang kesempatan ini. Aku tidak mau lagi bertindak bodoh...” kata-kata Michael terhenti ketika Myca melayangkan pelukannya. Wanita itu menangis, tetapi Michael dapat merasakan bahwa itu adalah tangis kebahagiaan, itu adalah tangis dari penantiannya yang begitu mengharu biru.

Michael melingkarkan kedua lengannya pada pinggang Myca, sedangkan Myca merangkul leher Michael. Pelukan itu terasa amat nyaman bagi Myca, ini lah yang ia dambakan... ini lah yang ia harapkan... ini lah yang ia impikan selama ini... dan ini lah doanya...

Tuhan maafkan aku yang sempat meragukanmu, ternyata selama ini kau begitu baik terhadapku... mengetahui bahwa ia juga mencintaiku adalah sebuah anugrah yang tak ternilai... sekarang aku tau mengapa Kau memberikan cobaan-cobaan itu kepadaku... aku sadar semua indah pada waktuNya...

Hyou.. ia mengintip kemesraan di antara Michael dan Myca dari balik dinding itu. Sekarang ia bisa bernafas lega karena Myca akhirnya mendapati apa yang ia inginkan. Kini tugasnya untuk menemani Myca telah selesai, ia mempercayakan wanita itu dalam tangan Michael. Ia yakin Michael dapat menjaga Myca sebaik ia dulu pernah menjaganya.
“Myca, tugasku menemanimu sudah selesai, sekarang aku bisa kembali ke Jepang dengan tenang. Berbahagialah dengan orang yang kau cintai. Aku akan selalu mengingatmu dan aku harap kau juga tidak akan pernah melupakanku lagi kalau suatu saat aku kembali hehe”

With Love,
Izukama Hyou

Myca meneteskan air mata ketika membaca baris pertama surat dari Hyou itu, namun kelanjutannya ia tertawa kecil sambil tersenyum mengingat pertemuannya dulu saat di bandara. “Hyou-san, arigatou gozaimasu.” Ucapnya pelan.
END
Read More »

0 Cerpen : YOU ARE MY EVERYTHING

Selasa, Agustus 07, 2012 Under From Refky wijaya
[0 Comment]
YOU ARE MY EVERYTHING

Cerpen Cinta
“kenapa kamu tega menghianati aku Miko ? apa salahku selama 1 tahun kita bersama ? apa ?! katakan padaku Miko !!” aku tak dapat lagi menahan rasa sakit hati yang meluap-luap di dada. Aku tidak peduli jika ia menganggap aku wanita yang cengeng. Aku menangis di hadapannya karena aku tidak bisa lagi mentolerir perbuatannya kali ini. Miko, kekasihku yang sudah menghiasi hari-hariku selama 1 tahun kini berhianat dengan wanita lain. Aku tidak tau siapa wanita itu, aku tidak mengenalnya, tetapi Miko sendiri yang mengaku kepadaku kalau ia sudah mengecewakan aku dan meminta padaku untuk mengakhiri hubungan kami karena ia merasa sudah tidak mungkin untuk melanjutkan semuanya ini.

“aku sungguh minta maaf Sharon, tapi aku tidak bisa lagi bersamamu. Maafkan aku...” Miko tidak memberiku kesempatan untuk berbicara, ia langsung pergi meninggalkan ruang tamu rumahku yang hanya berisikan kami berdua. Tangisku pecah saat mendengar pintu rumahku tertutup. Miko sudah benar-benar pergi, ia tidak akan kembali lagi, ia ternyata serius dengan perkataannya. Aku bodoh sekali telah mempercayainya. Ini semua kesalahanku dan aku layak menerimanya. 
‡‡‡

Aku hanya tinggal dirumah bersama dengan Bi Lastri dan supirku Mas Seno. Orangtuaku selalu sibuk mengurus bisnis di luar kota atau luar negri. Meskipun begitu aku tidak pernah merasa kesepian karena mereka berdua selalu menghibur dan menemaniku. Tentu saja, karena Bi Lastri dan Mas Seno sudah mengasuhku sejak bayi sampai sekarang aku menjadi mahasiswi, aku tetap masih membutuhkan mereka.

Ketika Miko memutuskan hubungan kami aku pun menceritakan semuanya kepada mereka. Aku menangis di pelukkan Bi Lastri wanita paruh baya itu. Ia membelai rambutku dan menenangkan aku seperti anaknya sendiri. Walau Miko tidak mencintaiku tetapi aku beruntung karena masih mempunyai mereka yang menyayangiku. Untuk itu aku berjanji tidak akan terpuruk karena dia.

“loh non Sharon kok belom ganti baju sih ? Tuan sama nyonya udah nunggu di bawah untuk makan malam dari tadi, cepetan ya non abis itu non langsung turun.” Ujar Bi Lastri yang sudah bolak-balik ke kamar untuk mengingatkan aku berulang kali.

“iya iya, bilang sama mama dan papa suruh tunggu ya bi. Aku bentar lagi turun, mau siap-siap dulu.” Kataku lalu menutup pintu kamar dan menguncinya setelah bi Lastri keluar.

Aku rasa aku tidak bisa menepati janjiku, aku rasa aku lebih baik mati daripada tidak bersama Miko. Aku tidak bisa hidup tanpanya. Diriku hampa tanpa kehadiranya, tanpa senyum manisnya, serta canda tawanya. Sudah 1 bulan aku mengambil cuti kuliah karena aku merasa belum sanggup untuk mengikuti pelajaran mata kuliahku semenjak Miko meninggalkanku.

Dan kini mama dan papaku baru saja kembali dari Manado tadi pagi. Entah mengapa kepulangan mereka kerumah pun tidak bisa menghibur hatiku yang sedang terguncang.

Maafkan aku ma, pa... aku bukan anak yang baik, aku rasa aku tidak bisa makan malam bersama lagi dengan kalian, untuk selamanya... selamat tinggal...

Aku menelan banyak obat tidur yang ada di laci lemari kamarku malam itu. Aku berniat untuk mengakhiri rasa sakit ini. Aku yakin setelah aku meminum semua obat tidur ini aku akan merasa tenang dan rasa sakit itu tidak akan muncul lagi. Beberapa menit kemudian aku merasa tubuhku mati rasa, aku jatuh tergeletak ke lantai dan mengalami kejang-kejang.

Dari luar pintu kamar aku masih bisa mendengar mama dan papaku yang terus mengetuk-ngetuk pintu dan berteriak dengan cemas. Aku dengar mereka meminta bantuan pada Mas Seno untuk mendobrak pintu kamarku.

Tidak...ma, pa.. kalian jangan masuk... aku tidak ingin kalian menangisi anak kalian yang bodoh ini...

Mataku mulai meredup, perlahan tertutup dan aku tidak tau lagi apa yang terjadi setelah itu. Aku rasa aku sudah mati ? Ya, baguslah! Rencanaku berhasil! Ucapku dalam hati.
‡‡‡

Harapanku ternyata tidak terkabul. Orangtuaku membawaku ke rumah sakit tepat waktu sehingga aku berhasil diselamatkan. Aku sempat tidak sadarkan diri selama 2 bulan, dan sekarang aku sudah keluar dari rumah sakit itu. Mama dan papaku tampak terpukul dengan kejadian ini. Mereka menangis begitu mendapati aku tersadar dari koma. Aku sungguh seperti anak durhaka. Aku berdosa kepada mereka berdua dan terutama kepada Tuhan. Bagaimana bisa aku melakukan percobaan bunuh diri hanya karena seorang pria ? maafkan aku Tuhan..

Setelah kejadian itu orangtuaku memutuskan untuk membawaku ke London. Mereka ingin aku melupakan hal-hal yang terjadi di Jakarta dan memulai lembar kehidupan yang baru. Aku menyetujuinya, walaupun aku tau nanti di sana mereka juga tidak selalu hadir untuk menemaniku, tapi setidaknya aku berada di tempat yang baru dan aku harap aku bisa melupakan kenangan pahitku.

Keesokan harinya aku, mama dan papa segera terbang ke London. Aku pasti akan sangat merindukan Bi Lastri dan Mas Seno, tapi ini adalah jalan yang terbaik bagiku. Miko pun tidak pernah memberi kabar sama sekali sejak terakhir kali kami bertemu, padahal aku tetap ingin berteman dengannya, nomernya juga sudah tidak aktif lagi. Aku rasa ini memang saatnya aku untuk melupakannya.

Sesampainya di ibu kota Inggris itu aku langsung merebahkan tubuhku ke kasur karena Jet lag yang mendera. Ya, ini lah rumah baruku, tempat tinggal baru, dan orang-orang baru yang akan mengisi kehidupanku.

Mama memasuki kamarku dan menghampiri aku yang sedang terbaring di tempat tidur. “Sharon, kamu istirahat yang banyak ya, mama dan papa harus pergi ke Manchester untuk menemui relasi bisnis. Kalau kamu butuh sesuatu minta saja sama Nanny Grace. Oh ya, dia juga bisa berbahasa Indonesia.”

“ya, kalian berdua hati-hati.” ucapku sambil menarik bedcover bermotif bunga mawar itu.

Sendiri lagi... selalu seperti ini, and i’m getting used to it.

Aku menetap di London hanya sampai aku merasa lebih baik saja, aku tidak sungguh-sungguh pindah ke negara ini. Aku mengambil cuti 1 tahun di kampus ku dengan alasan terapi penyembuhan. Istilah “tidak ada tempat yang paling nyaman dari kampung halaman” itu memang benar. Walaupun tinggal di London, aku tetap rindu Indonesia dan aku akan segera kembali sampai aku selesai menata hatiku.

“Sharon, apa kau butuh sesuatu ?” sahut seseorang dari luar kamarku dengan bahasa Indonesia yang tidak terlalu fasih. Ya, itu adalah Nanny Grace.

“tidak, saat ini aku ingin tidur saja. Terimakasih tawarannya Nanny.” Balasku nyaring.

“baiklah. Istirahat yang cukup.” ujarnya.

Aku tidak merasa lelah lagi, justru sekarang merasa bosan. Aku membuka laptopku dan menyolokkan modem ke port usb. Sudah 3 bulan aku tidak membuka akun jejaring sosialku, mungkin ada hal terbaru yang tidak ku ketahui.

“maafkan aku meninggalkanmu, sekarang kau pasti membenciku. Tidak apa, itu justru yang aku inginkan karena aku memang tidak pantas mendapatkan wanita yang sangat baik sepertimu.. aku hanya seorang pengecut, i’m so sorry Ser..” 3 months ago.

Ketika membuka akun facebook-ku, itulah hal pertama yang aku liat di beranda. Itu adalah status yang ditulis Miko 3 bulan yang lalu. Karna penasaran aku pun membuka profilenya secara keseluruhan. Entah mengapa jantungku berdetak lebih cepat 2 kali lipat dari sebelumnya. Begitu tampilan facebook Miko terpampang lengkap di depan kedua bola mataku aku tidak dapat berkata sedikitpun. Aku hanya menggigit bibir bagian bawahku, menahan agar aku tidak menangis ketika membaca semua statusnya.

“sepertinya harapanku sudah sirna, kalau memang dia sudah melupakan aku dan bahagia bersama dengan orang lain, aku pun akan berusaha untuk bahagia.” 15 minutes ago.


“ini membuatku tersiksa, aku tidak sanggup lagi..” 1 day ago.


“aku harap dia tidak membuka akun facebooknya, kalau ya, aku benar-benar akan sangat malu.” 2 days ago.


“it’s so cold without you by my side, i’m sorry to hurt such an angle like you. You are my everything.” 4 days ago.


“you must be hate me so much.” 2 weeks ago.


“if only i could tell you the truth, would you still love me ?” 1 month ago.

Yang benar saja ?! apa kau benar-benar menulis semua status ini Miko ? tapi kenapa ? apa alasanmu melakukan ini semua terhadapku ? ternyata kau tidak pernah sungguh-sungguh ingin pergi meninggalkanku ?! lalu mengapa kau berbuat seperti itu ?? aku tidak mampu menahan cairan hangat itu keluar dari mataku, aku merasa sangat senang usai membaca semua statusnya, namun aku juga merasa sedih karena dulu ia tidak mau jujur kepadaku.

Beberapa saat aku menangisi hal itu lalu aku tersadar kalau kepergianku ke London adalah untuk menghapus kenangan pahitku. Ya! aku harus melupakan Miko! Lagipula sudah terlambat bagiku jika sekarang aku ingin berharap dia masih mencintaiku. Dari status yang ditulisnya 15 menit yang lalu dapat disimpulkan bahwa ia akan melupakanku cepat atau lambat, dan aku harus merelakan itu.
‡‡‡

Hanya 1 bulan aku berada di London dan aku memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Aku rasa aku sudah menata dengan benar hatiku. Aku yakin sudah tidak ada lagi perasaanku yang tersisa untuk Miko, mantan kekasihku yang dulu meninggalkanku. Meskipun aku tau kebenarannya, tapi itu sudah terlambat. Semuanya sudah berakhir...

“Sharon, are you really leaving ? please just stay with me..” pria bertubuh jangkung itu memelukku dengan erat. Ya, dia adalah Kieran, aku mengenalnya saat berkunjung ke perpustakaan umum di London ketika aku merasa down setelah mengetahui yang sebenarnya tentang Miko. Dia bekerja di sana, dia mengajakku berkenalan dan makan malam. Sebenarnya aku mulai sedikit menyukai laki-laki tampan berambut coklat itu, tapi aku harus pergi. Aku harus melanjutkan studiku di Indonesia yang sudah terbengkalai karena kejadian-kejadian yang terjadi belakangan ini.

Aku mengendurkan pelukannya perlahan. “i want it, but i can’t, i have to go now. Don’t be sad Ki, i’ll visit you right away. Goodbye..” Ucapku sambil menyunggikan senyum manis kepada Kieran.

Aku bersiap menggaet sebuah tas travel berukuran sedang dan koper besar. Tetapi saat aku akan membelokkan tubuhku untuk pergi dari sana tiba-tiba saja Kieran meraih pergelangan tanganku dan menariknya sehingga tubuhku berputar 180 derajat. Wajahku tepat di depan wajahnya dan sangat dekat, aku memandang mata birunya penuh tanda tanya. Kieran semakin mendekatkan wajahnya kearahku, ia menundukan kepalanya sedikit lalu dalam sekejap ia mendaratkan sebuah kecupan lembut di bibirku yang membuatku tak bisa berkata apa-apa.

Kieran melepaskan genggamannya lalu berkata. “sorry if you don’t like it, but that’s our farewell kiss. I’ll be missing you Sharon..”

“thank you Kieran.” Ucapku lalu melangkah pergi dari sana. Kieran, dia satu-satunya pria yang mampu membuatku ragu untuk pergi dari London, tetapi aku tetap harus kembali ke Indonesia. Aku tidak akan melupakanmu Ki. Terimakasih kau sudah hadir dalam hidupku...
‡‡‡

Saat aku sudah menempati tempat duduk ku di pesawat, entah mengapa aku ingin membuka handphone dan melihat facebook-ku kalau-kalau ada seseorang yang menulis sesuatu di wall-ku.

Benar saja dugaanku, ternyata ada seseorang me-wall-ku. Dia teman SMA-ku dulu Flavia :

“oh my God! I really miss you Sharon!! It’s been so long, let’s meet up dear.” 6 hours ago.

“please turn off your cell phone because the plane will be taking off in a few minutes.” Ujar pramugari tersebut yang memperingatkan aku karena terlihat masih asik memegangi benda mungil itu.

“oh, ok.” Jawabku singkat.

Cepat sekali pesawat ini akan lepas landas. Aku pun bergegas log off dari facebook-ku, tapi aku sengaja kembali ke beranda. Dan hal itu membuatku terkejut! Aku melihat Miko baru saja mengupdate statusnya :

“going back to Indonesia from London, i can’t stand my dad anymore. I need to meet you! I have to tell you the truth.. hope you could understand.” Just now.

Apa ?! ternyata dia selama ini ada di London ?! dan sekarang ia sedang kembali ke Indonesia ?!

Ini benar-benar mengagetkan untukku. Aku berdiri dan mencari-cari sosok Miko. Aku duduk di bagian tengah, jadi aku harus mengecek ke bagian depan dan ke belakang supaya menemukannya. Namun beberapa saat mencarinya aku tidak mendapatkan Miko di bangku deretan depan maupun belakang. Dengan menghela nafas panjang aku pun kembali ke tempat dudukku.

Aku sedikit terkejut karena ketika aku kembali ke bangku ku aku mendapati tas besar milik seseorang ada di sampingku. Padahal sebelumnya aku tidak melihat tas itu, tiba-tiba saja benda itu muncul.

Aku duduk diam, memejamkan mata dan memasang headphone menyetel musik rock kencang-kencang. Entah kenapa aku merasa sedikit kecewa karena tidak dapat menemukan Miko dan seharusnya aku juga tidak perlu mencari pria itu, karena aku harus melupakannya.

Akhirnya pesawat pun lepas landas, hanya tinggal hitungan detik saja tapi orang yang duduk di sampingku tak kunjung datang. Apa dia belum pernah naik pesawat sebelumnya? Gumamku dalam hati.

“excuse me miss..” ucap seseorang dengan nafas yang bergemuruh seperti di kejar hantu. Ya, pasti orang itu!

“it’s ok, no...” saat aku melepaskan headphone dan membuka kedua mataku, aku tak berkutik dan bibirku tak bergerak sedikit pun memandang orang tersebut.

“Sharon ?” ucapnya dengan nada setengah tak percaya.
‡‡‡

Sungguh sebuah hadiah yang tak terduga bagiku. Aku satu pesawat dengan Miko dan tempat duduk kami pun bersamaan. Meskipun begitu aku tidak membuka mulut. Aku mengunci bibirku rapat-rapat dan berusaha bersikap acuh terhadapnya.

“maafkan aku Sharon... sekarang aku akan menjelaskan semuanya kepadamu. Aku harap kau bisa mengerti.” Kata Miko yang membuka pembicaraan di tengah keheningan kami selain suara pesawat yang sedikit bising terdengar.

Aku tidak memandangnya, aku hanya membalas ucapannya. “aku sudah tau semuanya, aku sudah baca semua statusmu. Tidak ada lagi yang perlu di jelaskan.”

“masih ada yang belum kau ketahui Sharon dan aku harus mengatakannya. Tolong izinkanlah aku menjelaskannya padamu.” Nada yang memelas itu membuat hatiku luluh. Rupanya aku belum bisa menata hatiku, rupanya aku masih menyukainya.

“katakanlah apa yang ingin kau katakan.” Ucapku berharap terdengar cuek.

“aku meninggalkanmu karena papaku memaksaku untuk belajar mengurus perusahaannya, itu ia lakukan karena menurutnya aku lah satu-satunya pewaris perusahan yang ideal. Dia tidak mau kakakku Tommy yang menjadi pewaris perusahaan karena baginya Tommy hanya akan memperburuk keadaan keuangan perusahaan yang sedang goyah saat ini. Karena itu aku beralasan kepadamu bahwa aku telah menghianatimu, tapi kenyataannya aku sama sekali tidak pernah melakukan itu Sharon. Aku sangat mencintaimu, tetapi di lain sisi aku juga tidak bisa menolak permintaan papaku. Tolong cobalah mengerti keadaanku Sharon, aku tidak pernah berniat untuk melukai perasaanmu sedi...” Miko terus saja berbicara dan itu membuat telingaku panas. Aku tidak bisa untuk tidak memaafkannya apalagi karena alasannya sangat kuat seperti itu.

Aku pun memotong perkataannya. “lalu kenapa kau kembali ? aku melihat status mu, kau bilang kau tidak tahan dengan papamu.” Kini aku mulai menatapnya, aku memberanikan diri memandang wajahnya. Dia tidak berubah, masih sama seperti dulu... sangat tampan..

Miko tertunduk sejenak, ia menggengam tanganku dan kembali berkata. “sebenarnya urusanku di London belum selesai Sharon, tetapi aku sudah tidak tahan lagi karena rasa bersalah yang terus menghantui diriku. Aku ingin kau tau semuanya, dan aku tidak ingin kau membenciku karena aku sangat menyayangimu.”

“jangan bicara lagi. Aku mencintaimu Miko. Dan aku tidak pernah bisa membencimu.” Aku langsung memeluk Miko saat itu juga. Rasanya aku rindu sekali dengan pria ini. Kalaupun aku ingin, aku tidak bisa membenci Miko. Aku bingung mengapa bisa seperti itu. Tapi satu yang pasti aku sangat senang bisa bersama lagi dengannya.

You are my everything, no one will be able to replace you from my heart...
You mean the world to me...
You’re the apple of my eye...
TAMAT
Read More »

0 Cerpen : Pupus

Selasa, Agustus 07, 2012 Under From Refky wijaya
[0 Comment]

“Pupus”
Cerpen Kenangan
oleh: Zahrina Oktaviana

               Hari itu aku keterima di SMA favorit pilihanku. Seneng saat itu ku rasakan, aku jadi tak sabar ingin rasanya aku ingin menginjakan kakiku di kelas yang baru dengan suasana baru.

               Senin 08 Juli 2011, hari pertama aku masuk sebagai siswa berseragam putih abu-abu. Aku kira dikelas yang baru ini aku akan mendapatkan sesuatu yang baru, tapi ternyata sama saja, menurutku lebih enak jadi siswa smp kalau begini jadinya. Huh, hari-hariku jadi bosan dan bosan. Tapi dengan hal tersebut aku jadi berpikir bahwa aku harus menjadi seseorang yang menyenangkan agar bisa bergaul dengan teman-teman baruku disini. Alhasil aku pun berhasil, aku sekarang udah punya banyak teman , gak seperti dulu yang membuatku merasa bosan dengan masa SMA. 

               Hari berganti hari aku semakin akrab dengn teman-teman semua. Kecuali satu orang cowok namanya Tian. Mungkin di kontakku hanya nama Tian yang tidak tercantum. Huh, lagian jadi cowok kok aneh banget, kalau dibilang pendiem sih enggak, tapi aneh aja gitu. Senangnya menyendiri.
###
               “aduh, ulangan sosiologi bab berapa aja sih ya?’’ kataku sambil membolak balik buku 

               “oh ya, kok aku gak kepikiran sms si Ade sih” lalu aku mengambil hp ku dan mengetik beberapa kata buat si ade. Tak lama kemudian ringtone hp ku berbunyi dan tandanya ada sms masuk

               ”tanya Tian aja, dia yang tahu, kan dia yang disuruh nyebarin, ni tak kasih nomernya 08976718###”

               Yah terpaksa aku harus tanya dia, hitung-hitung juga buat nyimpen nomer dia dihapeku. Ternyata dia anaknya asyik juga yah, sampai sampai kita smsn berlarur-larut. Padahal besok ulangan sosiologi tapi malah smsn gak jelas sama Tian. Hahaha 

               Keesokan harinya , waktu ulangan kita berdua saling mencontek. Soalnya kita berdua sama-sama gak belajar. Hahaha. Sejak saat itu Tian yang awalnya aku kira cowok aneh sekarang semakin akrab denganku. Dia itu caper banget sama aku seolah-olah ingin mencuri perhatianku. Setiap aku ingin jalan selalu dia menghalangi dengan tingkah-tingkah konyolnya. Gak penting banget pokoknya.

               Aku merasa berbada dengan kelakuannya. Kelakuannya itu kadang membuat aku sebel tapi kelakuannya itu juga ngangenin. Lama-kelamaan timbul rasa yang berbeda ketika aku menatap matanya. Aku juga merasa berbada ketika dia menatap mataku. Apa mungkin aku menyimpan sasuatu sama dia?
###
               “ciye, ihir jadian ya sama Tian, makan-makannya mana?” goda Ade kepadaku 

               “jadian? Ngaco kamu deh”

               “alah via, kamu jangan bohong deh, sekelas juga udah pada dengaer gosip itu. Asyik ni ye tiap hari ketemu terus” 

               What? Gosip? Gawat ni ternyata kedekatan aku ama Tian muncul gossip seperti itu. Tapi no problem aku malah seneng digosipin pacaran sama Tian tapi kalau Tian entahlah. 
###
               Aku semakin yakin, bahwa rasa ini bukan rasa biasa. Aku selalu menanggap kalau Tian juga suka sama aku. Mungkin benar, bahwa aku benar-benar suka sama si Tian. Tian dan Tian yang ada di pikiranku.

               “Ar, ari kayaknya Tian suka deh sama aku” aku curhat pada Ari

               “emang kamu yakin, belum tentu lho, dia kan playboy” jawab Ari

               “beneran kok, buktinya dia caper banget sama aku. Eh Ar, jujur aku suka Tian walaupun Tian gak tahu bagaimana perasaanku padanya, tapi aku selalu berpikir kalau aku bisa bersamanya”

               “ aduh, ciye semangat banget kamu vi, iyadeh aku dukung kamu”
###
               Hampir 1 tahun aku sekelas sama dia, dan sampai sekarang dia gak tahu perasaanku yang sebenarnya ke dia. Bentar lagi kenaikan kelas, otomatis kita berdua akan pisah kelas. Jadi aku berharap kelakuan Tian yang nggemesin itu gak berubah. 

               Ternyata benar kita berdua pisah kelas, dia di 11a dan aku di 11b. Tapi gakpapa selagi masih berdekatan. Aku kan bisa modus ngeliat dia setiap saat, hehe. Dia sekelas sama Ari, yah kalau boleh tukeran kelas sih, aku mau tukeran sama Ari. 

               Makin lama kelakuan capernya makin bnzertambah ke aku, aku tentunya seneng dong. Kita berdua itu deket banget. Dia sering nyamperin aku ke kelas, Ngirim sms ke aku, wall to wall di facebook, sampai hal konyol di sekolahan. Pernah saat itu aku di isengin di kelas, dia sengaja mendorongku ke tempat sampah sampai hamper terjatuh, tapi tanganku dipegangin dia. Oh so sweet banget. Walaupun rasa ini masih terpendam. Gak masalah deh, walaupun rasa ini masih terpendam dan mungkin dia gak akan pernah tau selamanya, tapi aku masih sengeng setiap ngeliat dia tersenyum. 
###
               “Tian diluar gak ya, biasanya dia sama Kevin dan bagus diluar, coba ah modus aja” 

               Ketika aku keluar kelas, ternyata benar dia diluar kelas. Tapi yang aku lihat dia lagi bareng Ari, keliatan akrab banget. Entah kenapa saat itu aku cemburu banget, ketika aku akan menjauhi mereka terdengar suara memanggilku.

               “Via, bentar. Kata Ari kamu suka sama aku. Kata dia kamu sering cerita aku ke dia. Katanya kamu suka sama aku?” pertanyaan yang seolah-olah sangat menusuk di dadaku.

               Waktu itu aku tak bisa berkata apa-apa, aku serasa benci dan benci banget sama Ari. Mengapa dia tega menceritakan semuanya pada Tian. Ku kira dia sahabat, tapi sekarang dia berkhianat. Hah, ingin ku refresh otak ini, dan lupakan semua tentang Tiaaaaann. Tapi sayangnya itu sia-sia.

               Sakit sakit dan sangat sakit, mengapa Tian harus tahu dengan cara seperti ini. Akhirnya aku akan putuskan untuk mencoba melupakan Tian.

               “TIAAAN, AKU GAK PERNAH SUKA SAMA KAMU, ARI BOHONG, AKU GAK PERNAH SUKAA” aku mencoba bilang sama Tian, walaupun sebenarnya kata-kata itu beda jauh sama perasaanku. Aku terpaksa bohong sama dia, dan itu sangat sakit kurasakan.
###
               Sejak saat itu aku mencoba melupakan Tian, aku cuek banget sama dia. Sampai akhirnya Tian punya pacar baru, dan aku mencoba sabar. Mencoba menerima walau hati ini menangis. Mungkin kenangan dulu hanya akan menjadi debu yang terbang ditiup angin. Tapi entah mengapa saya sering memimpikannya.

               Aku mencoba tersenyum dihati yang luka ini. Lebih parah lagi, Ari sahabatku sekarang ingin membuat aku cemburu. Setiap aku buka beranda atau timeline, selalu dia dan Tian wall to wall dan saling mention bareng, apalagi mereka berdua seperti pacar yang sedang dimabuk cinta. Tentunya hal itu membuat aku cemburu. Aku tahu si Ari hanya pura-pura. Belum lagi Ari mengupload fotonya bersama Tian di facebook sebagai foto profilnya, begitupun dengan Tian. sampai saat ini Tian belum tahu perasaanku, dan mungkin akan tersimpan selamanya. Aku menyesal dulu telah bilang bohong ke Tian. Sekarang sudah Pupus harapanku. Cintaku ini hanya bertepuk sebelah tangan. 

               Tian aku sayang kamu, aku kangen kenangan kita dulu.

               Mungkin benar kata orang “jika mencintai orang lain secara diam-diam, pada akhirnya hanya akan mendoakannya serta akan merelakannya”. 
*****
Read More »